Opini: BENIH KEHANCURAN BANGSA

sumpah-pemuda-2016-5631729839636480-hp

BENIH KEHANCURAN BANGSA

Oleh:

Dr. I Gusti Bagus Rai Utama, MA.

Perkembangan media jejaring sosial dan teknologi informasi telah menembus batas penghalang informasi untuk disampaikan kepada masyarakat. Akhir-akhir ini konflik yang berbau-bau SARA mencuat dan terjadi nyaris di sebagaian besar wilayah Indonesia dan bahkan dunia. Permasalahan dan konflik SARA tidak saja terjadi secara eksternal namun juga terjadi secara internalnya. Berbagai konflik terjadi disebabkan oleh menguatnya egoism kelompok, etnis, dan penganut suatu agama itu sendiri, dan juga diidorong oleh melemahnya kesadaran toleransi terhadap perbedaan. Faktor lainnya disebabkan oleh menguatnya fanatisme yang belum dimbangi dengan pemahaman yang benar tentang hakekat keragaman dan perbedaan. Faktor yang lebih lucu lagi, adanya pencampur-adukan tentang agama dan budaya sehingga beragama seperti layaknya sebuah penjajahan bangsa asing karena kita tidak menyesuaikannya dengan budaya yang telah ada di Nusantara ini. Harus diakui, amat sulit memang, membedakan antara agama dan budaya yang menyertainya. Jika kita beragama Islam haruskah kita menelan mentah-mentah budaya Arab yang menyertainya?, begitu juga jika kita beragama Kristen haruskah dengan mudah meniru budaya Yahudi?,  jika kita beragama Budha haruskah kita bergaya ala bangsa Cina?, jika kita beragama Hindu haruskah kita menjadi orang India dan sebagainya.

Nyaris 100% penduduk Indonesia tercatat beragama namun amat disayangkan justru berbagai tindak kekerasan, kriminalisasi, korupsi, dan penyalahgunaan narkoba tercatat cukup tinggi dan marak terjadi dan nyaris merata di sebagian besar kota-kota di Indonesia. Pertanyaannya, apa yang sebenarnya yang telah salah dengan agama-agama di Indonesia? Jawaban sementara yang dapat diutarakan yakni semakin melemahnya pemahaman beragama tentang hakekat agamanya, serta terjadinya komersialisasi organisasi keagamaan, dan politisasi agama itu sendiri untuk meraih kekuasaan dunia.

Ada sebuah ibarat bahwa beragama mirip dengan orang yang memakai “celana dalam”, dimana celana dalam tersebut perlu kita gunakan untuk kenyamanan diri, namun tidak harus kita pamerkan merk ataupun warnanya. Mungkin akan menjadi sebuah ironi jika kita ternyata memnggunakan celana dalam yang robek dan terlihat oleh orang lainnya. Jika demikian, gunakanlah celana dalam yang nyaman untuk diri kita dan tidak perlu memaksakannya untuk orang lainya. Namun jangan terlalu berharap jika kita menggunakan celana dalam yang baik dan tidak perlu harus dipuji-puji oleh orang lain karena apa yang kita gunakan untuk kenyamanan kita sendiri bukan untuk orang lain.  Ada juga yang beribarat bahwa orang-orang yang beragama berbeda dalam sebuah Negara, seperti sekumpulan orang yang sedang menghisap sebatang rokok yang berbeda merk dan jenis tembakaunya. Mereka semua dapat menikmati rokok tersebut dengan nikmatnya tanpa harus memaksa orang lain untuk mengisap rokok yang sama dengan dirinya. Inti dari perumpaan ini adalah apa yang kita anggap baik dan benar belum tentu  baik dan benar bagi orang lainnya. Silogisme yang mesti kita bangun adalah pahami dan lakukan apa yang baik menurut kita untuk diri kita sendiri bukan untuk orang lainnya.

Kita memang harus melestarikan budaya daerah kita masing-masing tanpa harus resisten dengan budaya orang lain atau memaksa orang lainnya untuk menjadi sama dengan diri kita. Kita boleh membuat program peningkatan keimanan beragama kita masing-masing tanpa harus menghakimi kelompok lainnya sebagai kelompok orang-orang kafir atau kelompok orang-orang dalam kegelapan. Makna persatuan tidaklah harus seragam karena kita bukan Negara komunis, namun yang terpenting adalah kesepakatan untuk sepakat menerapkan nilai-nilai Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika.  Para pelopor kemerdekaan kita telah membangun bangsa ini dalam sebuah kenyataan bahwa kita memang heterogen dalam berbagai hal seperti agama, etnis, suku, aliran, bahasa daerah, warna kulit, potensi daerah dan sebagainya dan itu sebuah kekayaan yang jika kita mampu kelola  akan menjadi sebuah daya tarik bagi bangsa lainnya untuk lebih mempercayai bangsa dan Negara kita sebagai bangsa yang bermartabat dan berbudaya luhur.

kerukunan-umat-beragama

Perlu kita catat bersama bahwa saat ini terlalu banyak pejabat kita membuat perencanaan program kerja dengan target yang tinggi. Kita ambil contohnya misalnya target pencapaian kunjungan wisatawan asing berwisata ke Indonesia adalah 20 juta, mungkinkah?. Tentu saja target tersebut akan terlalu kecil jika kita telah dianggap Negara yang memiliki stabilitas politik, sosial, hukum, politik, dan keamanan yang dapat dipercaya. Pembangunan apapun yang kita lakukan tanpa dukungan faktor faktor tersebut, tidak mungkin dapat kita wujudkan. Akhirnya dapat kita simpulkan bahwa untuk keberlanjutan pembangunan bangsa ini, baiknya kita kembali kepada pengamalan nilai-nilai Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika yang telah kita sepakati bersama dan niscaya bangsa kita akan menjadi bangsa yang besar, adil, sejahtera, makmur, dan beradab.

Penulis adalah Dosen Tetap pada Fakultas Ekonomika dan Humaniora Universitas Dhyana Pura, Bali, pemerhati masalah-masalah sosial dan kepariwisataan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s