Membentuk Etos Wirausaha, Makan untuk Bekerja

kliping

MEMBENTUK ETOS WIRAUSAHA

Oleh

I Gusti Bagus Rai Utama

 

Zona Nyaman

Seorang pegawai sebuah perusahaan swasta dihadapkan pada sebuah persoalan hidup, dimana dia harus menentukan pilihan pada suatu situasi yang amat sulit. Persoalan tersebut adalah antara mempertahankan pekerjaannya saat ini yang selama 15 tahun nyaris tidak menaikkan gajinya secara seimbang dengan situasi saat ini. Pada situasi yang sulit tersebut, ternyata dia telah menikah dan penghasilannya hanya cukup menghidupi rumah tangganya hingga tanggal 15 saja, dan setelahnya harus mencari subsidi sana-sini. Dengan penuh keterpaksaan tersebut, akhirnya ia tidak mampu bertahan lagi untuk lebih lama lagi bekerja diperusahaan tersebut, dan tercetuslah niat untuk bekerja secara mandiri. Dengan penih keberanian di tengah rasa takutnya, walaupun ia belum tentu akan langsung berhasil dengan usaha baru yang ia akan jalankan, ia akhirnya terpaksa melakukannya.

Untuk melahirkan insan yang memiliki jiwa wirausaha adalah dengan mengajarkan sesuatu yang membuat seseorang terpaksa untuk berpikir dan pada akhirnya membentuk seseorang berpikir untuk terpaksa, karena dengan keterpaksaan sajalah seseorang akan memiliki jiwa wirausaha yang superdahsyat untuk melompati tembok persoalan yang sedang dihadapinya. Sebagaian besar masyarakat Indonesia lebih menyukai lapangan pekerjaan yang memiliki zona nyaman seperti menjadi PNS atau pegawai BUMN, dan sejenisnya. Banyak orang mengetahui apa yang seharusnya mereka perbuat, tetapi sedikit saja yang benar-benar melaksanakan apa yang mereka ketahui. Seseorang yang berpikir bahwa ia terpaksa, akan melihat segala sesuatu menjadi sebuah peluang, sementara seseorang yang berada dalam zona nyaman, akan berpikir sebaliknya.

 

Kecerdasan Sosial dan Spritual

Buzam (2002) menguraikan bahwa keberhasilan usaha bisnis seseorang ditentukan oleh kecerdasan sosial, sikap, dan kemampuan negosiasi, namun yang ditonjolkan oleh sekolah dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi lebih dominan menekankan pada kecerdasaran intelektual saja.  Lulusan perguruan tinggi dianggap sebagian besar  sebagai penyumbang angka pengangguran tertinggi di Indonesia. Perguruan tinggi akhirnya dianggap gagal untuk menciptakan lulusan yang siap untuk bekerja, begitu juga dianggap gagal memenuhi kualifikasi dan kompetensi yang diperlukan oleh masyarakat industri karena kurikulumnya yang tidak berseseuaian dengan apa yang diperlukan oleh dunia kerja. Pada kondisi inilah, peran pemerintah dan perguruan tinggi  diharapkan mampu mendorong para lulusan perguruan tinggi untuk berwirausaha atau bekerja secara mandiri.

Pada kondisi keterpaksaan, seseorang harus dilengkapi dengan kecerdasan spiritual agar mereka tidak terjebak pada jebakan untuk menghalalkan segala cara. Kecerdasan spiritual akhirnya dianggap sebagai faktor penting dalam menentukan pembentukan jiwa wirausaha yang mandiri secara luhur. Seseorang yang sepanjang hidupnya hanya menjadi karyawan, maka sepanjang hidupnya pula ia hanya berpikir dan berada pada kondisi hidup yang kurang bermakna yakni bekerja untuk hidup, bukan hidup untuk bekerja. Seseorang yang bekerja untuk hidup akan membawa kondisi bekerja hanya untuk makan, yang semestinya makan untuk bekerja. Jika seseorang menjadi mandiri dalam hidupnya, maka hidupnya menjadi lebih bermakna karena ia akan menjadi saluran berkat bagi orang lain dan membawa pada posisi status sosial yang lebih bermakna.

Membentuk Etos Kerja Mandiri

Untuk mewujudkan mental wirausaha, diperlukan rekayasa mental yang dilaksanakan secara masif, terstruktur, dan sistematis dengan menyentuh secara substantif melalui rekayasa kurikulum pendidikan dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi. Pendidikan harus menekankan pembangunan manusia seutuhnya, yakni utuh spritualitasnya, sosialitasnya, dan intelektualitasnya secara seimbang. Pembangunan persekolahan mestinya lebih diarahkan untuk melakukan rekayasa mental dengan menggunakan model kompetisi, model simulasi, dan permainan belajar yang kreatif dan inovatif sesuai talenta yang dimiliki oleh masing-masing siswa.

Sekolah dan perguruang tinggi  harus mampu menjadi saluran bakat yang menyenangkan dengan memotivasi, menginspirasi, memfasilitasi, dan mendukung para generasi muda sehingga dari program-program tersebut akan terbentuk generasi yang memiliki rasa percaya diri yang tinggi, jiwa kemandirian, dan optimisme yang cukup untuk bertarung dalam bekerja dan  berusaha secara mandiri. Bagi masyarakat Indonesia, selain rekayasa mental, juga diperlukan rekayasa budaya untuk keluar dari belenggu budaya kebangsawanan yang secara tidak sadar telah menjadi faktor penghambat kemandirian bangsa. Rekayasa budaya bangsawan ini diarahkan untuk menghapus budaya gengsi. Budaya gengsi telah membelenggu generasi muda kita menjadi pilih-pilih pekerjaan, cengeng, dan mudah menyerah pada situasi  sulit.

Penulis adalah Wakil Rektor Bidang  Akademik dan Kemahasiswaan, dan Dosen Tetap pada Fakutas Ekonomika dan Humaniora Universitas Dhyana Pura, Bali

kliping-membentuk-etos-wirausaha_001

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s