PARIWISATA BALI DALAM DIKOTOMI KUALITAS DAN KUANTITAS

kliping-pariwisata-bali-dalam-dikotomi-2PARIWISATA BALI  DALAM DIKOTOMI KUALITAS DAN KUANTITAS

Oleh

I Gusti Bagus Rai Utama

Kontribusi Pariwisata bagi Pembangunan Daerah

Pariwisata didaulat sebagai salah satu mesin penggerak perekonomian dunia yang  terbukti mampu memberikan kontribusi terhadap kemakmuran sebuah negara. Pembangunan pariwisata juga mampu menggairahkan aktivitas bisnis untuk menghasilkan manfaat sosial, budaya, dan ekonomi yang cukup nyata bagi suatu negara. Keberhasilan sektor pariwisata yang paling mudah untuk diamati adalah bertambahnya jumlah kedatangan wisatawan dari periode ke periode. Pertambahan jumlah wisatawan dapat terwujud jika wisatawan yang telah berkunjung puas terhadap destinasi dengan berbagai atribut yang ditawarkan oleh pengelolanya. Wisatawan yang puas akan cenderung menjadi setia untuk mengulang liburannya dimasa mendatang dan memungkinkan mereka juga bersedia merekomen teman-teman, serta kerabatnya untuk berlibur ke tempat yang sama.

Dari perspektif ekonomi, dampak positif pariwisata khususnya bagi pariwisata Bali dapat diamati dari beberapa hal, diantaranya adalah (1) mendatangkan devisa bagi negara melalui penukaran mata uang asing, (2) pasar potensial bagi produk barang dan jasa masyarakat Bali dan juga Indonesia, (3) meningkatkan pendapatan masyarakat yang kegiatannya terkait langsung atau tidak langsung dengan jasa pariwisata Bali, (4) memperluas penciptaan kesempatan kerja yang terkait langsung seperti perhotelan, restoran, agen  perjalanan, maupun pada sektor-sektor yang tidak terkait langsung seperti industri kerajinan, penyediaan produk-produk pertanian, atraksi budaya, bisnis eceran, jasa-jasa  lainnya, (5) sumber pendapatan asli daerah (PAD) dari pajak dan retribusi, dan (6) merangsang kreaktivitas seniman, baik seniman pengrajin industri kecil maupun seniman.

Dikotomi Kuantitas dan Kualitas

Segmentasi pariwisata Bali pada tahun 2016 mengindikasikan bahwa wisatawan mancanegara yang berwisata ke Bali belum menunjukkan wisatawan yang berkualitas dengan fakta emipiris bahwa dari  4.927.937 orang, terdapat 23,20% mereka berasal dari Australia, dan 20,11% dari Tiongkok (Disparda Bali, 2016). Bali saat ini memiliki sekitar 130.000 kamar hotel dan dinilai sudah melebihi kebutuhan, pada saat yang bersamaan Pemprov Bali mengambil kebijakan mencabut moratorium pembangunan hotel. Pembangunan hotel di Kabupaten Badung dapat dimulai pada 2016, dan  wilayah Kota Denpasar boleh dilakukan pada 2017 ini (Berita Bali, 2016). Ada apa dengan Bali?.

Ketika pariwisata direncanakan dengan baik, akan dapat memberikan manfaat bagi masyarakat lokal, para pelaku bisnis, dan bagi wisatawan itu sendiri secara harmonis.  Diskusi tentang pariwisata bersama Forum Wartawan Pariwisata, dengan topik “kuantitas atau kualitas”, terlihat dan nampak jelas masih terjadinya dikotomi yang saling berbenturan, jika tidak mampu dikelola dengan baik, akan memunculkan disharmoni antara masyarakat lokal, para pelaku bisnis, dan bagi wisatawan itu sendiri (Pitana, 2017). Kasus pariwisata Bali, banyak kalangan khususnya para pelaku bisnis akomodasi mengganggap bahwa Bali sudah kelebihan suplai kamar, sementara para pelaku bisnis perjanalan wisata mengganggap bahwa Bali masih kekurangan wisatawan untuk mengisi kelebihan suplai akomodasi. Para pengelola jasa pendidikan pariwisata berharap pembangunan pariwisata harus tetap dilakukan disepanjang masa untuk dapat menampung calon tenaga kerja yang dihasilkannya. Kesimpulannya adalah bahwa kita masih memerlukan kedatangan wisatawan dan secara kualitas juga mesti terus meningkat kuantitasnya.. Apakah itu mungkin?. Faktanya, Bali baru saja menerima sebuah penghargaan dari Travel Journal Singapore sebagai “The best relaxation destination” (Pitana, 2017) yang mengindikasikan bahwa Pulau Bali sebagai Destinasi Pariwisata Internasional yang layak mempromosikan dirinya sebagai destinasi bagi wisatawan yang berkualitas. Pada sisi yang bersamaan, Bali juga masih memiliki potensi untuk mendatangkan wisatawan lebih banyak lagi dari tahun sebelumnya karena ketersediaan akomodasi yang melimpah.

Tuntutan Pembangunan Berkelanjutan

Isu tentang moratorium pembangunan hotel di Bali telah lama dikumandangkan, namun sejak diberlakukannya Undang-Undang (UU) Nomor 22 Tahun 1999 yang kemudian disempurnakan atau diganti menjadi UU Nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah tentang hakekat otonomi pembangunan, maka secara tidak langsung mengisyaratkan pemerintah daerah melakukan pembangunan secara maksimal demi kemakmuran daerah masing-masing khususnya kabupaten/kota. Bagi Pemerintah daerah, ini adalah kesempatan seluas-luasnya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya, yang tidak hanya mengandalkan dana  perimbangan pusat dan daerah, tetapi juga menggali potensi sumber-sumber pendapatan asli daerah dengan tetap memperhatikan prinsip-prinsip keadilan dan keberlanjutan termasuk juga sektor pariwisata. Artinya moratorium pembangunan hotel di Bali secara kebijakan amat sulit untuk dilakukan, namun akan berjalan sesuai mekanisme pasar yakni sepanjang masih ada permintaan, akan masih tetap ada pembangunan akomodasi. Begitu juga, sepanjang masih melimpahnya suplai akomodasi, maka para pelaku bisnis pariwisata masih akan melakukan kegiatan promosi yang bertujuan untuk mendatangkan wisatawan sesuai targetnya.

Bali Perlu Pemerataan Pembangunan Pariwisata

            Ada beberapa skenario dapat dilakukan untuk mengharmoniskan dikotomi antara tuntutan kuantitas dan kualitas. Pertama adalah hanya mengijinkan investasi pembangunan kepariwisataan di luar wilayah yang  sudah dianggap jenuh yakni Badung, Denpasar, dan Gianyar. Kedua adalah menentukan zona wilayah sentra pariwisata, pendukung pariwisata, dan penunjang pariwisata Bali dengan mempertimbangkan keunggulan komparatif wilayah. Ketiga adalah dengan menyerahkan seluruh kebijakan pembangunan kepariwisataan pada daerahnya masing-masing dengan sistem dan mekanismenya masing-masing secara adil dan bijaksana.

Penulis: Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan, Dosen Tetap Program Studi Manajemen Perhotelan, Fakultas Ekonomika dan Humaniora, Universitas Dhyana Pura, dan Alumni Program Doktor Pariwisata Universitas Udayana, Bali.

Kliping  Pariwisata Bali dalam Dikotomi-3.jpg

Advertisements

About raiutama

igustibagusraiutama@gmail.com
This entry was posted in Journal. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s