PEMBANGUNAN PARIWISATA PADA DAERAH BLANK SPOT

Pos Bali, Edisi Rabu 22 Maret 2017Kliping Blank Spot

PEMBANGUNAN PARIWISATA PADA DAERAH BLANK SPOT

Oleh

I Gusti Bagus Rai Utama

 

Daerah-daerah yang tidak memiliki budaya spesisfik ibaratnya seperti jaringan komunikasi sering disebut “blank spot area” akan berhadapan dengan banyak kendala dalam pembangunan pariwisata budaya. Pada konteks pariwisata, budaya seringkali dianggap sebagai sebuah kekayaan yang diperuntukkan untuk konsumsi para wisatawan, sehingga budaya akhirnya mengalami komodifikasi. Bali sebagai daerah tujuan wisata dalam proses pengembangan budayanya, acapkali disesuaikan dengan gaya masyarakat barat, sehingga lambat laun budaya akan mengalami kehilangan keunikan dan tidak mampu menunjukkan perbedaan dengan budaya lainnya khususnya dengan budaya para wisatawan asing tersebut. Jika hal tersebut terjadi, maka lambat laun minat wisatawan akan menurun. Persoalannya adalah, bagaimanakah dengan daerah-daerah yang termasuk dalam kategori blank spot budaya?. Sebut saja misalnya Daerah Jembrana, Kepulauan Nusa Penida, dan Daerah Buleleng bagian barat, akan amat sulit menemukan budaya asli daerah tersebut. Apakah daerah seperti itu layak dikembangkan sebagai pariwisata budaya?. Model pariwisata seperti apakah yang sesuai untuk daerah blank spot budaya?.

 

Hilangnya identitas budaya daerah

Penguatan identitas lokal dan kreatifitas etnis amat penting karena dapat memberikan respon dan akibat terhadap perbedaan dan keragamaan sebagai komoditas yang dikonsumsi oleh wisatawan. Menurut Hitchcock (2000), etnisitas dapat dipahami sebagai sumberdaya yang dapat digerakkan untuk memunculkan keunikan budaya tertentu dalam konteks pembangunan pariwisata budaya. Begitu juga Scott (1995), menganggap bahwa pariwisata memiliki peranan yang penting untuk pembentukan identitas dan etnisitas dimana perbedaan budaya adalah hal yang bisa dipasarkan sebagai sumber daya destinasi pariwisata. Selanjutnya Burlo (1996), menjelaskan elemen budaya dapat dikomodifikasi mengikuti pariwisata, tetapi hendaknya tetap menghargai ke-tradisionalan budaya sebagai sesuatu proses masyarakat lokal yang dapat menarik wisatawan dan dapat memberikan kekuatan politik masyarakat sehingga dalam kontek ini, pariwisata dapat mengurangi mariginaliasi masyarakat akibat  adanya manipulasi politik.

 

Model pariwisata untuk daerah blank spot budaya

Strategi paling jitu untuk pemberdayaan daerah blank spot budaya adalah tidak memaksakannya dibangun dalam model pariwisata budaya seperti yang telah disampaikan oleh para ahli pariwisata budaya. Jikalau demikian, kekayaan alamnya dapat dikembangkan sebagai daya tarik wisata dan tentu saja diperlukan kemauan, harapan, kreatifitas, dan inovasi dari semua pemangku kepentingan daerah secara sosial maupun politik. Model komodifikasi budaya juga dapat dilakukan sepanjang kreator budaya mampu menunjukkan perbedaan yang signifikan dengan budaya aslinya untuk menghindari konflik saling klaim dengan daerah lainnya.  Apapun model pariwisata yang dikembangkan, keterlibatan masyarakat memegang peranan sangat penting sehingga pendekatan pembangunan pariwisata “community based tourism” selalu diutamakan dan dipertimbangkan (Murphy, 1985).

Siapa itu masyarakat lokal?, definisi ini harus mengandung makna pelibatan partisipasi masyarakat, harus melibatkan masyarakat yang berkuasa, siapa yang termasuk masyarakat lokal, siapa yang seharusnya paling dilibatkan untuk mengurangi konflik dikemudian hari dalam pembangunan pariwisata. Antisipasi ini amat penting untuk mengindari terjadinya sebuah kebencian terhadap pemandu wisata yang bukan merupakan penduduk lokal. Jikalau dibangun pusat atau pasar oleh-oleh (souvenir shop) pada daerah tertentu, mestinyalah menjual produk-produk masyarakat lokal di mana daya tarik wisata itu ada. Regulasi dan pengaturan serta tata kelola pemanduan wisata mesti dikelola berhirarki yang memungkinkan memberdayakan para pemandu wisata lokal karena merekalah yang lebih mengetahui daerahnya.

 

Pembangunan pariwisata pada daerah blank spot budaya di Bali

Untuk daerah Blank Spot budaya seperti daerah Jembrana, mestinya para pemangku kepentingan berani mengambil beberapa alternatif yang berani dan kreatif untuk membangun kepariwisataan Jembrana seperti mempromosikan destinasi halal karena sumberdaya manusia pendukungnya memang melimpah. Begitu juga misalnya pengembangan wisata rohani atau spritual Kristen dan Katolik mungkin akan menjadi faktor pembeda dengan daerah lain dan sekaligus mengisi ruang blank spot budaya yang ada. Daerah Buleleng bagian barat yang dulunya pernah dikenal sebagai pelabuhan laut yang cukup maju, dapat dikembangkan sebagai daerah wisata bahari atau pesiar karena daerah pantai utara memang sebenarnya lalu lintas laut Nusantara yang cukup popular. Begitu juga halnya dengan Kepulauan Nusa Penida yang saat ini mulai dikenal oleh para wisatawan oleh karena keindahan alamnya. Namun, derah tersebut sebenarnya adalah daerah blank spot budaya yang tidak ditemukannya sebuah budaya asli, dan masih amat identik dengan budaya di daetah-daerah Bali Pulau pada umumnya. Pada kondisi seperti inilah diperlukan kreatifitas dan inovasi dari masyarakat lokal untuk membentuk faktor pembeda dan keunikan dengan daerah-daerah Bali Pulau pada umumnya.

Pada beberapa kasus pengembangan pariwisata yang ada, menunjukkan bahwa pada masyarakat yang berbeda memiliki keterlibatan yang berbeda pula pada setiap inisiatif pembangunan. Misalnya di Jembrana akan memungkinkan lebih banyak dikembangkan daya tarik wisata buatan (man-made), namun di Kepulauan Nusa Penida lebih banyak dikembangkan daya tarik wisata semi-buatan (semi-man made), dan begitu juga dengan daerah Buleleng bagian barat diperlukan lebih banyak sentuhan kreatifitas khususnya untuk mengatasi kelemahan aksesibilitas misalnya dengan membangun bandara alternatif, dan pelabuhan laut yang memungkinkan bersandarnya kapal pesiar.

 

Penulis: Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan, Dosen Tetap Program Studi Manajemen Perhotelan, Fakultas Ekonomika dan Humaniora, Universitas Dhyana Pura, dan Alumni Program Doktor Pariwisata Universitas Udayana, Bali.

 

 

Advertisements

About raiutama

igustibagusraiutama@gmail.com
This entry was posted in Journal. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s