PEMBANGUNAN PARIWISATA PADA DAERAH BLANK SPOT

Pos Bali, Edisi Rabu 22 Maret 2017Kliping Blank Spot

PEMBANGUNAN PARIWISATA PADA DAERAH BLANK SPOT

Oleh

I Gusti Bagus Rai Utama

 

Daerah-daerah yang tidak memiliki budaya spesisfik ibaratnya seperti jaringan komunikasi sering disebut “blank spot area” akan berhadapan dengan banyak kendala dalam pembangunan pariwisata budaya. Pada konteks pariwisata, budaya seringkali dianggap sebagai sebuah kekayaan yang diperuntukkan untuk konsumsi para wisatawan, sehingga budaya akhirnya mengalami komodifikasi. Bali sebagai daerah tujuan wisata dalam proses pengembangan budayanya, acapkali disesuaikan dengan gaya masyarakat barat, sehingga lambat laun budaya akan mengalami kehilangan keunikan dan tidak mampu menunjukkan perbedaan dengan budaya lainnya khususnya dengan budaya para wisatawan asing tersebut. Jika hal tersebut terjadi, maka lambat laun minat wisatawan akan menurun. Persoalannya adalah, bagaimanakah dengan daerah-daerah yang termasuk dalam kategori blank spot budaya?. Sebut saja misalnya Daerah Jembrana, Kepulauan Nusa Penida, dan Daerah Buleleng bagian barat, akan amat sulit menemukan budaya asli daerah tersebut. Apakah daerah seperti itu layak dikembangkan sebagai pariwisata budaya?. Model pariwisata seperti apakah yang sesuai untuk daerah blank spot budaya?.

 

Hilangnya identitas budaya daerah

Penguatan identitas lokal dan kreatifitas etnis amat penting karena dapat memberikan respon dan akibat terhadap perbedaan dan keragamaan sebagai komoditas yang dikonsumsi oleh wisatawan. Menurut Hitchcock (2000), etnisitas dapat dipahami sebagai sumberdaya yang dapat digerakkan untuk memunculkan keunikan budaya tertentu dalam konteks pembangunan pariwisata budaya. Begitu juga Scott (1995), menganggap bahwa pariwisata memiliki peranan yang penting untuk pembentukan identitas dan etnisitas dimana perbedaan budaya adalah hal yang bisa dipasarkan sebagai sumber daya destinasi pariwisata. Selanjutnya Burlo (1996), menjelaskan elemen budaya dapat dikomodifikasi mengikuti pariwisata, tetapi hendaknya tetap menghargai ke-tradisionalan budaya sebagai sesuatu proses masyarakat lokal yang dapat menarik wisatawan dan dapat memberikan kekuatan politik masyarakat sehingga dalam kontek ini, pariwisata dapat mengurangi mariginaliasi masyarakat akibat  adanya manipulasi politik.

 

Model pariwisata untuk daerah blank spot budaya

Strategi paling jitu untuk pemberdayaan daerah blank spot budaya adalah tidak memaksakannya dibangun dalam model pariwisata budaya seperti yang telah disampaikan oleh para ahli pariwisata budaya. Jikalau demikian, kekayaan alamnya dapat dikembangkan sebagai daya tarik wisata dan tentu saja diperlukan kemauan, harapan, kreatifitas, dan inovasi dari semua pemangku kepentingan daerah secara sosial maupun politik. Model komodifikasi budaya juga dapat dilakukan sepanjang kreator budaya mampu menunjukkan perbedaan yang signifikan dengan budaya aslinya untuk menghindari konflik saling klaim dengan daerah lainnya.  Apapun model pariwisata yang dikembangkan, keterlibatan masyarakat memegang peranan sangat penting sehingga pendekatan pembangunan pariwisata “community based tourism” selalu diutamakan dan dipertimbangkan (Murphy, 1985).

Siapa itu masyarakat lokal?, definisi ini harus mengandung makna pelibatan partisipasi masyarakat, harus melibatkan masyarakat yang berkuasa, siapa yang termasuk masyarakat lokal, siapa yang seharusnya paling dilibatkan untuk mengurangi konflik dikemudian hari dalam pembangunan pariwisata. Antisipasi ini amat penting untuk mengindari terjadinya sebuah kebencian terhadap pemandu wisata yang bukan merupakan penduduk lokal. Jikalau dibangun pusat atau pasar oleh-oleh (souvenir shop) pada daerah tertentu, mestinyalah menjual produk-produk masyarakat lokal di mana daya tarik wisata itu ada. Regulasi dan pengaturan serta tata kelola pemanduan wisata mesti dikelola berhirarki yang memungkinkan memberdayakan para pemandu wisata lokal karena merekalah yang lebih mengetahui daerahnya.

 

Pembangunan pariwisata pada daerah blank spot budaya di Bali

Untuk daerah Blank Spot budaya seperti daerah Jembrana, mestinya para pemangku kepentingan berani mengambil beberapa alternatif yang berani dan kreatif untuk membangun kepariwisataan Jembrana seperti mempromosikan destinasi halal karena sumberdaya manusia pendukungnya memang melimpah. Begitu juga misalnya pengembangan wisata rohani atau spritual Kristen dan Katolik mungkin akan menjadi faktor pembeda dengan daerah lain dan sekaligus mengisi ruang blank spot budaya yang ada. Daerah Buleleng bagian barat yang dulunya pernah dikenal sebagai pelabuhan laut yang cukup maju, dapat dikembangkan sebagai daerah wisata bahari atau pesiar karena daerah pantai utara memang sebenarnya lalu lintas laut Nusantara yang cukup popular. Begitu juga halnya dengan Kepulauan Nusa Penida yang saat ini mulai dikenal oleh para wisatawan oleh karena keindahan alamnya. Namun, derah tersebut sebenarnya adalah daerah blank spot budaya yang tidak ditemukannya sebuah budaya asli, dan masih amat identik dengan budaya di daetah-daerah Bali Pulau pada umumnya. Pada kondisi seperti inilah diperlukan kreatifitas dan inovasi dari masyarakat lokal untuk membentuk faktor pembeda dan keunikan dengan daerah-daerah Bali Pulau pada umumnya.

Pada beberapa kasus pengembangan pariwisata yang ada, menunjukkan bahwa pada masyarakat yang berbeda memiliki keterlibatan yang berbeda pula pada setiap inisiatif pembangunan. Misalnya di Jembrana akan memungkinkan lebih banyak dikembangkan daya tarik wisata buatan (man-made), namun di Kepulauan Nusa Penida lebih banyak dikembangkan daya tarik wisata semi-buatan (semi-man made), dan begitu juga dengan daerah Buleleng bagian barat diperlukan lebih banyak sentuhan kreatifitas khususnya untuk mengatasi kelemahan aksesibilitas misalnya dengan membangun bandara alternatif, dan pelabuhan laut yang memungkinkan bersandarnya kapal pesiar.

 

Penulis: Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan, Dosen Tetap Program Studi Manajemen Perhotelan, Fakultas Ekonomika dan Humaniora, Universitas Dhyana Pura, dan Alumni Program Doktor Pariwisata Universitas Udayana, Bali.

 

 

Posted in Journal | Leave a comment

Buku Pemasaran Pariwisata

Pemasaran Pariwisata

Kategori: Buku Sekolah
ISBN: 978-979-29-6270-3
Penulis: I Gusti Bagus Rai Utama
Ukuran: 19×23 cm
Halaman: 346 halaman
Tahun Terbit: 2017
Berat: 540 gram
Harga: Rp 115.000

Sinopsis:
Buku ini menyajikan perbedaan yang mendasar antara pemasaran produk pada umumnya dengan produk pariwisata khususnya di Indonesia yang saat ini sedang menggalakkan sektor kreatif ini sebagai sektor andalan pembangunan. Diharapkan buku ini dapat memberikan warna yang berbeda pada kelompok buku pemasaran dan sekaligus menjadi buku yang berguna bagi semua kalangan seperti mahasiswa pariwisata, para pengelola bisnis pariwisata, dan masyarakat umum lainnya.

#pemasaran #pariwisata #tourism #manajemen #visitindonesia #perhotelan #infobuku #book #publishing #buku #penerbitan #penerbitandi #promotion #ayomembaca #newbook #bukubaru #reseller #jualan #bookstagram #jualbuku #instabook #booklover #belibuku #instapromo #iklan

INFO PEMESANAN : 085729900700 (WA), PIN BB: 21416FCB, Telp : 0274-561881 ext. 204, Email : info@andipublisher.com

Image may contain: text
Posted in Journal | Leave a comment

PARIWISATA BALI DALAM DIKOTOMI KUALITAS DAN KUANTITAS

kliping-pariwisata-bali-dalam-dikotomi-2PARIWISATA BALI  DALAM DIKOTOMI KUALITAS DAN KUANTITAS

Oleh

I Gusti Bagus Rai Utama

Kontribusi Pariwisata bagi Pembangunan Daerah

Pariwisata didaulat sebagai salah satu mesin penggerak perekonomian dunia yang  terbukti mampu memberikan kontribusi terhadap kemakmuran sebuah negara. Pembangunan pariwisata juga mampu menggairahkan aktivitas bisnis untuk menghasilkan manfaat sosial, budaya, dan ekonomi yang cukup nyata bagi suatu negara. Keberhasilan sektor pariwisata yang paling mudah untuk diamati adalah bertambahnya jumlah kedatangan wisatawan dari periode ke periode. Pertambahan jumlah wisatawan dapat terwujud jika wisatawan yang telah berkunjung puas terhadap destinasi dengan berbagai atribut yang ditawarkan oleh pengelolanya. Wisatawan yang puas akan cenderung menjadi setia untuk mengulang liburannya dimasa mendatang dan memungkinkan mereka juga bersedia merekomen teman-teman, serta kerabatnya untuk berlibur ke tempat yang sama.

Dari perspektif ekonomi, dampak positif pariwisata khususnya bagi pariwisata Bali dapat diamati dari beberapa hal, diantaranya adalah (1) mendatangkan devisa bagi negara melalui penukaran mata uang asing, (2) pasar potensial bagi produk barang dan jasa masyarakat Bali dan juga Indonesia, (3) meningkatkan pendapatan masyarakat yang kegiatannya terkait langsung atau tidak langsung dengan jasa pariwisata Bali, (4) memperluas penciptaan kesempatan kerja yang terkait langsung seperti perhotelan, restoran, agen  perjalanan, maupun pada sektor-sektor yang tidak terkait langsung seperti industri kerajinan, penyediaan produk-produk pertanian, atraksi budaya, bisnis eceran, jasa-jasa  lainnya, (5) sumber pendapatan asli daerah (PAD) dari pajak dan retribusi, dan (6) merangsang kreaktivitas seniman, baik seniman pengrajin industri kecil maupun seniman.

Dikotomi Kuantitas dan Kualitas

Segmentasi pariwisata Bali pada tahun 2016 mengindikasikan bahwa wisatawan mancanegara yang berwisata ke Bali belum menunjukkan wisatawan yang berkualitas dengan fakta emipiris bahwa dari  4.927.937 orang, terdapat 23,20% mereka berasal dari Australia, dan 20,11% dari Tiongkok (Disparda Bali, 2016). Bali saat ini memiliki sekitar 130.000 kamar hotel dan dinilai sudah melebihi kebutuhan, pada saat yang bersamaan Pemprov Bali mengambil kebijakan mencabut moratorium pembangunan hotel. Pembangunan hotel di Kabupaten Badung dapat dimulai pada 2016, dan  wilayah Kota Denpasar boleh dilakukan pada 2017 ini (Berita Bali, 2016). Ada apa dengan Bali?.

Ketika pariwisata direncanakan dengan baik, akan dapat memberikan manfaat bagi masyarakat lokal, para pelaku bisnis, dan bagi wisatawan itu sendiri secara harmonis.  Diskusi tentang pariwisata bersama Forum Wartawan Pariwisata, dengan topik “kuantitas atau kualitas”, terlihat dan nampak jelas masih terjadinya dikotomi yang saling berbenturan, jika tidak mampu dikelola dengan baik, akan memunculkan disharmoni antara masyarakat lokal, para pelaku bisnis, dan bagi wisatawan itu sendiri (Pitana, 2017). Kasus pariwisata Bali, banyak kalangan khususnya para pelaku bisnis akomodasi mengganggap bahwa Bali sudah kelebihan suplai kamar, sementara para pelaku bisnis perjanalan wisata mengganggap bahwa Bali masih kekurangan wisatawan untuk mengisi kelebihan suplai akomodasi. Para pengelola jasa pendidikan pariwisata berharap pembangunan pariwisata harus tetap dilakukan disepanjang masa untuk dapat menampung calon tenaga kerja yang dihasilkannya. Kesimpulannya adalah bahwa kita masih memerlukan kedatangan wisatawan dan secara kualitas juga mesti terus meningkat kuantitasnya.. Apakah itu mungkin?. Faktanya, Bali baru saja menerima sebuah penghargaan dari Travel Journal Singapore sebagai “The best relaxation destination” (Pitana, 2017) yang mengindikasikan bahwa Pulau Bali sebagai Destinasi Pariwisata Internasional yang layak mempromosikan dirinya sebagai destinasi bagi wisatawan yang berkualitas. Pada sisi yang bersamaan, Bali juga masih memiliki potensi untuk mendatangkan wisatawan lebih banyak lagi dari tahun sebelumnya karena ketersediaan akomodasi yang melimpah.

Tuntutan Pembangunan Berkelanjutan

Isu tentang moratorium pembangunan hotel di Bali telah lama dikumandangkan, namun sejak diberlakukannya Undang-Undang (UU) Nomor 22 Tahun 1999 yang kemudian disempurnakan atau diganti menjadi UU Nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah tentang hakekat otonomi pembangunan, maka secara tidak langsung mengisyaratkan pemerintah daerah melakukan pembangunan secara maksimal demi kemakmuran daerah masing-masing khususnya kabupaten/kota. Bagi Pemerintah daerah, ini adalah kesempatan seluas-luasnya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya, yang tidak hanya mengandalkan dana  perimbangan pusat dan daerah, tetapi juga menggali potensi sumber-sumber pendapatan asli daerah dengan tetap memperhatikan prinsip-prinsip keadilan dan keberlanjutan termasuk juga sektor pariwisata. Artinya moratorium pembangunan hotel di Bali secara kebijakan amat sulit untuk dilakukan, namun akan berjalan sesuai mekanisme pasar yakni sepanjang masih ada permintaan, akan masih tetap ada pembangunan akomodasi. Begitu juga, sepanjang masih melimpahnya suplai akomodasi, maka para pelaku bisnis pariwisata masih akan melakukan kegiatan promosi yang bertujuan untuk mendatangkan wisatawan sesuai targetnya.

Bali Perlu Pemerataan Pembangunan Pariwisata

            Ada beberapa skenario dapat dilakukan untuk mengharmoniskan dikotomi antara tuntutan kuantitas dan kualitas. Pertama adalah hanya mengijinkan investasi pembangunan kepariwisataan di luar wilayah yang  sudah dianggap jenuh yakni Badung, Denpasar, dan Gianyar. Kedua adalah menentukan zona wilayah sentra pariwisata, pendukung pariwisata, dan penunjang pariwisata Bali dengan mempertimbangkan keunggulan komparatif wilayah. Ketiga adalah dengan menyerahkan seluruh kebijakan pembangunan kepariwisataan pada daerahnya masing-masing dengan sistem dan mekanismenya masing-masing secara adil dan bijaksana.

Penulis: Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan, Dosen Tetap Program Studi Manajemen Perhotelan, Fakultas Ekonomika dan Humaniora, Universitas Dhyana Pura, dan Alumni Program Doktor Pariwisata Universitas Udayana, Bali.

Kliping  Pariwisata Bali dalam Dikotomi-3.jpg

Posted in Journal | Leave a comment

Bahan Kuliah E-Commerce dan MLM

Bahan Kuliah E-Commerce dan MLM
Dosen: Dr. I Gusti Bagus Rai Utama, SE., M.MA., MA.

Kelas: MP.D/6, MP.B/6, MP.F/6, MP.C/6

Posted in Journal | Leave a comment

Membentuk Etos Wirausaha, Makan untuk Bekerja

kliping

MEMBENTUK ETOS WIRAUSAHA

Oleh

I Gusti Bagus Rai Utama

 

Zona Nyaman

Seorang pegawai sebuah perusahaan swasta dihadapkan pada sebuah persoalan hidup, dimana dia harus menentukan pilihan pada suatu situasi yang amat sulit. Persoalan tersebut adalah antara mempertahankan pekerjaannya saat ini yang selama 15 tahun nyaris tidak menaikkan gajinya secara seimbang dengan situasi saat ini. Pada situasi yang sulit tersebut, ternyata dia telah menikah dan penghasilannya hanya cukup menghidupi rumah tangganya hingga tanggal 15 saja, dan setelahnya harus mencari subsidi sana-sini. Dengan penuh keterpaksaan tersebut, akhirnya ia tidak mampu bertahan lagi untuk lebih lama lagi bekerja diperusahaan tersebut, dan tercetuslah niat untuk bekerja secara mandiri. Dengan penih keberanian di tengah rasa takutnya, walaupun ia belum tentu akan langsung berhasil dengan usaha baru yang ia akan jalankan, ia akhirnya terpaksa melakukannya.

Untuk melahirkan insan yang memiliki jiwa wirausaha adalah dengan mengajarkan sesuatu yang membuat seseorang terpaksa untuk berpikir dan pada akhirnya membentuk seseorang berpikir untuk terpaksa, karena dengan keterpaksaan sajalah seseorang akan memiliki jiwa wirausaha yang superdahsyat untuk melompati tembok persoalan yang sedang dihadapinya. Sebagaian besar masyarakat Indonesia lebih menyukai lapangan pekerjaan yang memiliki zona nyaman seperti menjadi PNS atau pegawai BUMN, dan sejenisnya. Banyak orang mengetahui apa yang seharusnya mereka perbuat, tetapi sedikit saja yang benar-benar melaksanakan apa yang mereka ketahui. Seseorang yang berpikir bahwa ia terpaksa, akan melihat segala sesuatu menjadi sebuah peluang, sementara seseorang yang berada dalam zona nyaman, akan berpikir sebaliknya.

 

Kecerdasan Sosial dan Spritual

Buzam (2002) menguraikan bahwa keberhasilan usaha bisnis seseorang ditentukan oleh kecerdasan sosial, sikap, dan kemampuan negosiasi, namun yang ditonjolkan oleh sekolah dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi lebih dominan menekankan pada kecerdasaran intelektual saja.  Lulusan perguruan tinggi dianggap sebagian besar  sebagai penyumbang angka pengangguran tertinggi di Indonesia. Perguruan tinggi akhirnya dianggap gagal untuk menciptakan lulusan yang siap untuk bekerja, begitu juga dianggap gagal memenuhi kualifikasi dan kompetensi yang diperlukan oleh masyarakat industri karena kurikulumnya yang tidak berseseuaian dengan apa yang diperlukan oleh dunia kerja. Pada kondisi inilah, peran pemerintah dan perguruan tinggi  diharapkan mampu mendorong para lulusan perguruan tinggi untuk berwirausaha atau bekerja secara mandiri.

Pada kondisi keterpaksaan, seseorang harus dilengkapi dengan kecerdasan spiritual agar mereka tidak terjebak pada jebakan untuk menghalalkan segala cara. Kecerdasan spiritual akhirnya dianggap sebagai faktor penting dalam menentukan pembentukan jiwa wirausaha yang mandiri secara luhur. Seseorang yang sepanjang hidupnya hanya menjadi karyawan, maka sepanjang hidupnya pula ia hanya berpikir dan berada pada kondisi hidup yang kurang bermakna yakni bekerja untuk hidup, bukan hidup untuk bekerja. Seseorang yang bekerja untuk hidup akan membawa kondisi bekerja hanya untuk makan, yang semestinya makan untuk bekerja. Jika seseorang menjadi mandiri dalam hidupnya, maka hidupnya menjadi lebih bermakna karena ia akan menjadi saluran berkat bagi orang lain dan membawa pada posisi status sosial yang lebih bermakna.

Membentuk Etos Kerja Mandiri

Untuk mewujudkan mental wirausaha, diperlukan rekayasa mental yang dilaksanakan secara masif, terstruktur, dan sistematis dengan menyentuh secara substantif melalui rekayasa kurikulum pendidikan dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi. Pendidikan harus menekankan pembangunan manusia seutuhnya, yakni utuh spritualitasnya, sosialitasnya, dan intelektualitasnya secara seimbang. Pembangunan persekolahan mestinya lebih diarahkan untuk melakukan rekayasa mental dengan menggunakan model kompetisi, model simulasi, dan permainan belajar yang kreatif dan inovatif sesuai talenta yang dimiliki oleh masing-masing siswa.

Sekolah dan perguruang tinggi  harus mampu menjadi saluran bakat yang menyenangkan dengan memotivasi, menginspirasi, memfasilitasi, dan mendukung para generasi muda sehingga dari program-program tersebut akan terbentuk generasi yang memiliki rasa percaya diri yang tinggi, jiwa kemandirian, dan optimisme yang cukup untuk bertarung dalam bekerja dan  berusaha secara mandiri. Bagi masyarakat Indonesia, selain rekayasa mental, juga diperlukan rekayasa budaya untuk keluar dari belenggu budaya kebangsawanan yang secara tidak sadar telah menjadi faktor penghambat kemandirian bangsa. Rekayasa budaya bangsawan ini diarahkan untuk menghapus budaya gengsi. Budaya gengsi telah membelenggu generasi muda kita menjadi pilih-pilih pekerjaan, cengeng, dan mudah menyerah pada situasi  sulit.

Penulis adalah Wakil Rektor Bidang  Akademik dan Kemahasiswaan, dan Dosen Tetap pada Fakutas Ekonomika dan Humaniora Universitas Dhyana Pura, Bali

kliping-membentuk-etos-wirausaha_001

 

Posted in Journal | Leave a comment

Buku: Pemasaran Pariwisata

Pemasaran Pariwisata

cover-pemasaran-pariwisataBanyak kalangan yang menerapkan teori dan konsep-konsep pemasaran produk barang pada pemasaran pariwisata, padahal karakteristik produk pariwisata amatlah berbeda. Buku ini menyajikan perbedaan yang mendasar antara pemasaran produk pada umumnya dengan produk pariwisata khususnya di Indonesia yang saat ini sedang menggalakkan sektor kreatif ini sebagai sektor andalan pembangunan. Diharapkan buku ini dapat memberikan warna yang berbeda pada kelompok buku pemasaran dan sekaligus menjadi buku yang berguna bagi semua kalangan seperti mahasiswa pariwisata, para pengelola bisnis pariwisata, dan masyarakat umum lainnya

Seiring dengan lahirnya ilmu pariwisata yang telah memberikan manfaat bagi kesejahteraan umat manusia. Perjalanan dan pergerakan wisatawan merupakanh salah satu bentuk kegiatan dasar manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya yang beragam, baik dalam bentuk pengalaman, pencerahan, penyegaran fisik dan psikis maupun dalam bentuk aktualisasi diri. Buku pemasaran pariwisata ini menyajikan materi sebagai berikut ini: kajian pariwisata dari perspektif ekonomi, bauran pemasaran pariwisata, daur hidup destinasi pariwisata, komunikasi pemasaran pariwisata, pemasaran holistik dalam industri jasa pariwisata, konsumen pariwisata dan motivasi berwisata, bauran produk pariwisata, suplai pariwisata, industri akomodasi dan kuliner pariwisata, paket wisata, segmentasi pasar, mengukur kepuasan wisatawan, mengukur loyalitas wisatawan, citra destinasi pariwisata, strategi pemasaran  destinasi pariwisata berkelanjutan, potensi segmen pasar wisatawan senior, dan e-commerce pada industri pariwisata.

Buku ini baik sebagai referensi untuk memahami bauran pemasaran produk pariwisata, memahami keterkaitan antara komponen pariwisata dan hubungan dengan daya tarik pariwisata, memahami bentuk dan jenis pariwisata yang akan dipasarkan, dan memberikan  gambaran  dalam  proses  perencanaan, pengenalan, pengembangan pariwisata dan promosi daya tarik wisata yang efektif dan efesien sesuai dengan karakteristik produk pariwisata.

Terimakasih saya ucapkan kepada banyak pihak yang telah berkontribusi secara langsung maupun tidak langsung untuk terbit buku ini, semoga bermanfaat untuk kemajuan pendidikan pariwisata dan hospitalitas di Indonesia.

Secara khusus penulis mengucapkan banyak terimakasih kepada Prof. Dr. I Nyoman Darma Putra, M.Litt. yang telah bersedia menjadi pendamping hibah penulisan buku ajar tahun 2016 yang oleh perannyalah buku ini

akhirnya dapat diselesaikan. Pada kesempatan ini, penulis juga mengucapkan beribu-ribu terimakasih kepada Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Direktorat Jenderal Penguatan Riset dan Pengembangan yang telah meloloskan naskah buku ini sebagai salah satu pemenang Program Hibah Penulisan Buku Ajar Tahun 2016 sehingga buku ini dapat dicetak, didanai, dan dipublikasikan.

Silahkan order di ORDER BUKU LANGSUNG DI PENERBIT

http://andipublisher.com/produk-0217006278-pemasaran-pariwisata.html

atau ORDER LANGSUNG KE PENULIS (Selama persedian masih ada)

Kontak HP. 081337868577 (Bp. Rai Utama)

Rp. 92.000,- (sudah termasuk diskon 20%)  belum termasuk ongkos kirim menyesuaikan.

Transfer ke:

Bank BCA
No.Rekening:4350207291
a/n: I Gst Bgs Rai Utama

Posted in Leisure, News | Leave a comment

Template Mini Poster Tugas Akhir Matakuliah Statistik 2

Template Mini Poster Tugas Akhir Matakuliah Statistik 2 untuk kelas MP.A/3 dan MKU/3.

Tugas dikumpulkan pada saat Jadual Ujian Akhir Semester, dan sudah dalam bentuk printout POSTER….. Continue reading

Posted in Journal | Leave a comment